di bulan April ini, di bulan kelahiran saya.. Sampai saat ini masih ada penyesalan di hati saya, karena merasa belum bisa menjadi seorang wanita sholehah. Baik posisi sebagai anak, istri dan seorang ibu. Namun semoga Allah selalu merangkul saya dan menunjukkan jalan yang lurus agar saya bisa istiqomah kelak dalam kesholehahan seorang wanita yang berhak menjadi penghuni surganya Allah yang kekal bersama keluarga, sahabat dan orang yang saya sayangi. Aamiin..
Sampai saat ini hal yang saya sesali ketika anak saya yang berumur 2 tahun, yang lucu, berulah yang saya tidak sukai. Mungkin itu wajar bagi seorang anak kecil seumurnya, namun emosi saya masih belum bisa dikendalikan dengan baik.Saya marah dan berteriak kepadanya disaat anak saya melakukan hal yang tidak saya sukai. Setelah itu saya menyesal, anak selucu dan sepintar itu harus dapat amarah dan teriakan saya. Dengan memohon ampun dan berdoa minta kesabaran dari Allah agar menjadikan saya sebagai pribadi yang sabar dalam segala hal terutama dalam mengendalikan amarah.
Kemudian saya temukan artikel ini di situs www.akhwatindonesia.com
sebagai pelajaran bagi saya bahwa pada dasarnya anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan orang tualah yang membentuk pribadinya..
Sekedar berbagi kisah yang saya kutip dari situs tersebut, smoga berguna bagi saya dan para pembaca. aamiin..Berikut kutipannya..
"Bagaimana sedih dan galaunya seorang ibu mendapati anaknya bandel, nakal dan sering menjadi trouble maker orang-orang di sekitarnya, bahkan terkesan merusak dan menyakiti orang lain dan diri sendiri, ini salah siapa? Padahal jika dirunut, tiada seorang pun yang lahir di dunia ini kecuali dalam keadaan fitrah, dan mau jadi apapun anak kelak, Yahudi, Nasrani atau Majusi ternyata orangtua-lah yang berperan, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.
Peran orangtua memang sangat penting dalam membentuk karakter anak selain memilihkan agama yang tentu benar untuknya. Lalu, bisakah? anak yang hiperaktif, sangat bandel atau nakal dan selalu bikin masalah menjadi anak sholeh, lembut hati, cerdas, sopan santun, taat beragama, baik hati, penurut dan penyejuk hati orangtuanya?
Jawabannya, mengapa tidak? Saya mempunyai suatu pengalaman berharga yang bisa saya bagi. Anak lelaki sulung saya, saat Pra sekolah luar biasa bandelnya, sering membuat saya menangis. Setiap bermain, selalu saja teman-temannya berteriak karena ulahnya dan terjadilah insiden. Ada yang dicakar sampai berdarah-darah wajahnya hingga saya harus bolak balik meminta maaf pada ibu anak yang dicakar itu, menggigit orang-orang yang dijumpai, belum lagi menangis sambil teriak-teriak di tempat umum, sampai-sampai mulutnya berdarah saat sujud karena tak sengaja beradu kepala dengan saya, jari kecil adiknya tak sengaja dijepitkan dia di pintu rumah membuat panic se-isi rumah, menaburkan pasir pada es krim yang baru dimakan anak tetangga dan masih banyak lainnya, lalu bagaimana kabar sulungku sekarang?
Alhamdulillah, sekarang ia ada dipesantren kelas 10 alias 1 SMA, ia tumbuh menjadi remaja tampan, sopan santun, rendah hati, rajin mengaji dan beribadah dengan lebih baik (karena di pesantren) suka empati pada sesama, berupaya menolong siapa saja yang membutuhkan, ramah, tebar senyum, berprestasi cerdas pikir dan hati dan sederet ciri anak sholeh melekat padanya. Kebandelannya hilang saat ia mulai bersekolah TK. Mengapa bisa demikian, ini ummi saya bagi Tips sederhananya mengubah anak bandel menjadi anak sholeh:
1.Keteladanan
Orangtua adalah teladan yang utama bagi anak. Jika anak diperintahkan shalat, namun orangtuanya asyik ngobrol dan nonton sinetron, tentu tak akan digubris oleh anak, begitu juga saat mengaji, belajar, juga bersikap. Akan sangat lucu menginginkan anak ramah pada tetangga namun kita judes pada mereka. Ingin anak suka berbagi tapi pada dasarnya kita pelit, atau ingin mereka empati akan tetapi kita suka antipati.
2.Banyak diskusi dengan anak
Saya pernah ditegur ibu, “Anak masih kecil kok diajak berbicara seperti itu, tentu ia tidak mengerti…” Nah itulah jurus terjitu saya. Anak lelaki ini adalah cerdas, ia akan menerima apa saja perkataan orang lain tanpa harus menoleh. Makanya jika anak diajak diskusi dengan banyak perkataan tentu mau tak mau ia akan duduk dan mendengarkan. Jangan hanya berdiskusi masalah sepele yang itu-itu saja, seiring bertambahnya usia, coba dengan hal yang lebih berat, dan lihat reaksi cara menyelesaikannya.
3.Menasehati dengan kisah-kisah inspiratif
Karena saya penulis kisah, apa yang saya dapat dari kisah-kisah Nabi, orang-orang hebat, kisah orang shaleh selalu saya ceritakan padanya. Bukan hanya sekedar nasehat biasa, dan ini terkadang lebih manjur dari pada nasehat konvensional dengan bahasa perintah.
4.Ajak anak untuk belajar menyelesaikan masalah
Tentu persoalan yang tebang pilih yang cocok untuk seusianya. Saya terkadang malah memperlihatkan tangis saya dihadapannya, agar tahu jika memang saya sakit benar saat ia mungkin menggigit atau tak sengaja melukai saya, atau sedang sedih karena sesuatu hal. Ternyata anak langsung bereaksi terkadang menyentuh tangan atau pundak hanya ingin menenangkan ibunya.
5.Doakan anak disetiap kesempatan yang kita punya
Apa yang lebih didambakan anak selain doa orangtuanya yang akan menerangi langkah mereka dan mempermudah menjadikan anak sholeh yang akhirnya sebagai investasi akherat kita?
Jangan menyerah jika mempunyai anak yang ‘teridentifikasi’ nakal, bandel atau pembuat masalah. Setiap orangtua adalah kekuatan terbesar dalam memotivasi anaknya untuk berubah menjadi anak yang soleh dan berbakti pada orangtuanya. (ummi-online)"
sumber : www.akhwatindonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar