Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Sebagai orang tua sudah sepatutnya kita mendidik anak kita dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan pembekalan agama serta akhlak yang baik. Menjadi orang tua muda bukanlah hal yang mudah karena terkadang masih sulit mengendalikan emosi dalam mendidik anak. Sejak kecil orang tua haruslah menanamkan kepercayaan diri kepada anak.
Berikut saya kutip dari salah satu artikel di situs akhwatindonesia.com, semoga berguna...
“Siapa yang berani ke depan mengerjakan soal nomor 3 ?”. Begitulah
sekelumit pertanyaan yang saya lontarkan kepada siswa kelas 3 di sebuah
sekolah di kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, sekolah di mana saya
di tempatkan untuk mengabdi selama satu tahun ke depan hingga Januari
2016. Kelas yang awalnya sedikit gaduh berubah hening seketika. Beberapa
kali mengajar, ternyata kejadian ini kembali terulang di kelas- kelas
lain. Ketika pertanyaan yang sama dilontarkan, responnya pun serupa, tak
jauh berbeda. Keadaan berubah menjadi hening, siswa tak berani meskipun
hanya untuk sekedar mengangkat tangan apalagi untuk mengerjakan soal ke
depan kelas. Bukan karena siswa-siswa tersebut tidak mampu mengerjakan
soal melainkan kurang adanya motivasi dan kepercayaan diri untuk tampil
ke depan. Beberapa siswa mengerjakan dengan jawaban yang tepat, tapi
karena kurangnya percaya diri untuk tampil di depan itulah maka siswa
hanya sebatas memendam jawabannya tanpa berani unjuk gigi di depan kelas
untuk mengerjakannya.
Belajar dari kasus siswa kelas 3 di atas kita mendapat gambaran bahwa
betapa anak-anak usia sekolah dasar masih jauh dari rasa percaya diri.
Padahal sejatinya percaya diri merupakan aspek kepribadian yang penting
dalam kehidupan, pun bagi anak seusia SD. Berdasarkan kamus Bimbingan
dan Konseling, percaya diri merupakan kondisi mental atau psikologis
diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat
atau melakukan sesuatu tindakan. Orang yang tidak percaya diri memiliki
konsep diri negatif, kurang percaya pada kemampuannya, maka akan sering
menutup diri. Untuk menumbuhkan percaya diri pada anak memang butuh
proses, bukan hal sulit namun juga tak bisa dibilang sebagai hal yang
mudah. Proses penumbuhan percaya diri ini semata-mata tidak hanya
menjadi tanggung jawab guru akan tetapi didikan orang tua juga punya
andil besar. Bagaimana tidak, porsi anak di lingkungan rumah tinggal
bersama orang tua lebih banyak daripada porsi anak menghabiskan waktu di
sekolah. Otomatis, tingkah laku anak cenderung banyak dipengaruhi oleh
didikan tangan halus orang tua daripada gurunya.
Dalam keseharian, percaya diri bisa dimulai dari hal – hal kecil. Di antaranya,
pertama, memberi pujian atas karya anak
dengan ungkapan yang menyenangkan, misalnya, “wah, cantik sekali
lukisanmu, sungguh pekerjaan yang bagus” dengan ungkapan yang demikian,
maka akan menumbuhkan rasa gembira, mampu memunculkan percaya diri
karena kemampuan si anak diakui, dan tentunya hal ini akan menambah
semangat anak semakin menggelora karena si anak merasa karyana dihargai.
Posisi ini bisa berbalik, jika guru atau orang tua pelit memberikan
pujian atau bahkan tega mencemooh dengan kata-kata yang kurang
mengenakkan telinga, “aduh nak… belepotan sekali ini lukisanmu, tidak
jelas apa yang ingin kau lukis”, sama-sama ungkapan tapi memberi dampak
yang jelas berbeda. Kata-kata yang berisi ungkapan “meremehkan” ini
cenderung membuat anak merasa kecil hati, karyanya merasa tidak
dihargai, bisa berdampak mematikan semangat dan kreativitas anak. Kalau
sudah begini, darimana kepercayaaan diri akan tumbuh? Yang ada justru
surut tekad dan langkah karena karyanya hanya dipandang sebelah mata.
Kedua, mengucapkan terimakasih dengan tulus
kepada anak atas bantuan yang sudah diberikan. Mengapa memberikan
ucapan terimakasih itu penting? Sama halnya dengan poin pertama mengenai
karya, sekecil apa pun bantuan yang telah dilakukan anak, dia akan
merasa senang karena apa yang dia kerjakan diakui atau dihargai.
Ketiga, semangatilah anak maupun anak didik
untuk ikut serta dalam ajang perlombaan, baik di tingkat kampung, desa,
sekolah, kecamatan, kabupaten, dan sebagainya, yang intinya perlombaan
itu mampu mendorong potensi anak. Terkadang anak-anak punya bakat atau
potensi yang tersembunyi dan hanya dikeluarkan ketika ada target dan
semangati. Melalui perlombaan yang sesuai dengan bakat dan kemampuan,
anak berkesempatan menunjukkan “kemampuan yang sebenarnya” yang dia
miliki selama ini.
Keempat, membiasakan anak untuk tampil di
depan umum. Selanjutnya, hal yang bisa dilakukan oleh guru kepada siswa
adalah dengan menerapkan papan motivasi atau token prestasi yang dibuat
menarik, dan dijalankan secara konsisten, papan ini bisa dipajang di
kelas, setelah sebelumnya disepakati aturan, reward dan punishment antara siswa dengan guru. Aturan yang sudah disepakati bersama-sama harus dipatuhi, reward diberikan kepada siswa yang sudah menjalankan aturan dengan baik. Punishment tegas
diberlakukan bagi siswa yang melanggar aturan. Token prestasi ini akan
semakin memacu semangat apabila dibumbui dengan hadiah kecil bagi anak
yang layak mendapatkannya.
Masa anak-anak adalah masa emas untuk menanamkan nilai-nilai. Saatnya
membentuk karakter dan kepribadian positif bagi anak, selamat mencoba,
semoga tips singkat menumbuhkan percaya diri pada anak ini mampu
memberikan manfaat. (dakwatuna)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar