Seorang ayah dan anak harusnya dapat menjaga hubungan dengan baik.
Walaupun memang terkadang banyak ayah yang tidak dapat dengan lancar
bertemu karena kesibukan bekerja. Tapi setidaknya bisa diganti dengan
komunikasi yang baik antara ayah dan anak. Agar dapat terjalin hubungan
yang harmonis didalam keluarga.
Anak adalah amanah yang harus dijaga dan dirawat dengan baik, dengan
penuh cinta dan kasih sayang. Jangan sampai amanah yang telah Allah
Ta’ala berikan itu disia-siakan begitu saja. Kelak Allah Ta’ala akan
mempertanyakan bagaimana perlakuan kita terhadap amanah yang telah
diberikan-Nya itu.
Jangan sampai kita berasumsi bahwa orang tua berhak memperlakukan
anaknya seenak udele dewe. Tidak. Itu asumsi yang salah. Orang tua harus
memperhatikan pula hak-hak anaknya. Tidak adil rasanya bila orang tua
menginginkan anak yang berbakti, tapi hak anaknya sendiri tak dipenuhi.
Sayyidina ‘Umar bin al-Khaththab radiyallahu ‘anhu pernah menegur
seorang ayah yang datang mengadu perihal anaknya yang nakal. Dari
laporan sang ayah, anaknya ini sering kali berkata kasar dan memukuli
dirinya. Maka, ‘Umar bin al-Khaththab memanggil anak tersebut dan
memarahinya.
“Celakalah kamu!” Lanjut ‘Umar, “Tidakkah kamu tahu bahwa durhaka
kepada orang tua adalah dosa besar yang dapat mengundang murka Allah?”
“Tunggu dulu, wahai Amirul Mukminin,” anak itu menenangkan, “jangan
engkau tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau seorang ayah memang memiliki
hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya?”
“Ya, benar.” jawab Umar.
“Lantas, apakah hak anak terhadap ayahnya tadi?” lanjut sang anak.
“Ada tiga,” jelas ‘Umar, “pertama, hendaklah ia memilihkan calon ibu
yang baik bagi putranya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang
baik. Dan ketiga,” pungkasnya, “hendaklah ia mengajarinya menghafal
al-Qur’an.”
Sang anak pun berkata kepada ‘Umar bin al-Khaththab, “Ketahuilah
wahai Amirul Mukminin, ayahku tak pernah melakukan satu pun dari tiga
hal tersebut.”
Ia melanjutkan, “Ayahku tidak memilih calon ibu yang baik bagiku.
Ibuku hanyalah hamba sahaya yang buruk, berkulit hitam, dan dibeli dari
pasar seharga dua dirham.”
“Setelah lahir pun, ayah menamaiku Ju’al*, dan dia tak pernah mengajariku menghafal al-Qur’an walau satu ayat.”
‘Umar pun menghampiri ayah dari anak tadi, kemudian memarahinya,
“Engkaulah yang mendurhakainya sewaktu kecil,” lanjut ‘Umar, “pantaslah
kalau ia durhaka kepadamu sekarang.”
Begitulah. Seorang ayah pun bisa mendurhakai anaknya bila tak
memperhatikan hak-hak sang anak yang mesti dipenuhi. [Mustaqim Aziz]
*Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran
hewan. Bisa juga diartikan sebagai orang yang berkulit hitam dan
berparas jelek, atau orang yang emosional (al-Qamus al-Muhith).
(kisahikmah)
sumber: http://www.akhwatindonesia.com/2015/04/ayah-yang-durhaka-kepada-anaknya-apakah-ada/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar